3 idiots .. sebuah film yang dibintangi oleh Aamir Khan, Kareena Kapoor, Madhavan, dan Sarman Joshi karya sutradara Rajkumar Hirani. Yang ramai dielu-elukan orang banyak Akan tetapi, entah karena faktor ketinggalan berita atau istilah nya gak update, saya baru menyelesaikan menonton film itu kemarin. Sebuah film yang mampu melibatkan emosi penonton. Saya sendiri tidak berhenti tertawa juga menangis saat menonton film ini. Film terbagus yang pernah saya tonton selama ini. Banyak tendensi berharga yang terkadang sering diabaikan oleh film-film lain yang hanya menyajikan hiburan semata.

Pelajaran pertama yang saya ambil dari film ini adalah kisah persahabatan antara Ranchodas Chancad, Farhan Qureshi, dan Raju Rastogi. Dari beberapa adegan, diceritakan Kepala Sekolah ICE (ViruS) mengatakan bahwa Farhan dan Raju akan terancam prestasinya jika masih berteman dengan Rancho. Raju yang memiliki beban berat terhadap keluarganya lantas memisahkan diri dari Rancho. Hingga akhirnya Raju menyadari bahwa Rancho adalah sahabatnya saat Rancho menyelamatkan nyawa ayahnya. Disini saya melihat arti persahabatan yang sesungguhnya. Bukan hanya sekadar “tempat curhat”, bukan berpikir apa yang dia berikan, tetapi apa yang telah kita berikan, dengan kasih sayang, kepedulian, keterbukaan, ketulusan, saling mengingatkan, saling menasehati, saling memotivasi, saling membantu dan tidak menyakiti.

Pelajaran yang kedua yaitu hidup dalam kebohongan adalah kesalahan besar. Farhan Qureshi yang memiliki bakat fotografi alam liar, justru kuliah teknik mesin karena tuntutan orangtuanya. Wajar hasil ujian Farhan konsisten menempati posisi terakhir, karena dia menyenangi fotografi bukan teknik. Berkat saran dari Rancho yang mengatakan bahwa hasratmu adalah profesimu, diakhir cerita Farhan menjadi seorang fotografi sukses. Jadilah dirimu,  jalani hidupmu, dan jadilah apa yang kau mau.

Raju Rastogi, seseorang yang pada dasarnya cerdas. Tetapi hasil ujiannya juga konsisten seperti Farhan. Mengingat keluarganya yang miskin, ayahnya sakit keras, ibunya suka mengeluh, adik perempuannya tidak kunjung menikah, dan dia adalah satu-satunya harapan, sedangkan kompetisi dikampusnya sangat ketat. Inilah yang membuat Raju hidup dalam ketakutan. Takut akan masa depan. Sehingga belajarnya tidak optimal. Rancho menyarankan agar Raju membuang jimat-jimatnya dan berhenti merisaukan masa depan. Dan pada akhirnya, Raju mendapatkan pekerjaan. Ini pelajaran ketiga yang saya ambil. Jangan kau sesali hari kemarin, jangan kau takutkan hari esok, karena hidupmu adalah hari ini, maka lakukanlah yang terbaik hari ini.

Pelajaran terakhir yang saya dapat adalah sistem yang salah bisa saja menjadi gunting dalam lipatan. Mengungkapkan betapa miris kenyataan yang ada saat ini, pendidikan yang katanya dimaksudkan untuk membuat hidup bermanfaat, menjadi sebuah alasan bunuh diri paling mematikan, dan itu semua karena sistem pendidikan yang ketat, yang menuntut siswa untuk memecut diri sendiri, guna mendapat nilai yang terbaik, sehingga bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang besar di masa depan. Didalam film ini diceritakan bahwa sistem yang keras, diktator, dan penuh tekanan membuat Joy –mahasiswa yang ditolak karyanya oleh ViruS- bunuh diri, Raju yang nyaris tewas karena memilih bunuh diri daripada harus menyerahkan surat skors kepada orangtuanya atau menulis nama Rancho di surat skors tersebut.

Lembaga pendidikan harusnya mencetak manusia, bukan robot yang didikte pemiliknya. Karena pintar bukan hanya mampu menghafal teori didalam kelas, tetapi pintar adalah dapat mengembangkan bakat yang dimilikinya, dimana dia menjadi dirinya sendiri dan dapat mengaplikasikan ilmunya pada kehidupan. Seperti halnya Rancho yang bersekolah karena ia senang belajar, bukan karena mencari ijasah, bahkan ia bersekolah atas nama orang lain. Tetapi pada akhirnya Rancho yang memiliki nama asli Pungsukh Wangdu, menjadi seorang ilmuwan hebat terkenal Rancho mengajarkan pada semua orang yang ditemuinya, pada kekasihnya Pia dan terutama kepada dua sahabatnya, Raju dan Farhan, bahwa hidup bukan hanya soal pengakuan masyarakat. Belajar bukan untuk mendapatkan pengakuan dalam bentuk ijazah dan sertifikat. Dan pekerjaan yang kita pilih untuk dijalani di masa depan, bukanlah diputuskan berdasar pada berapa besar gaji yang akan kita dapat, atau keinginan orang-orang sekitar kita, tapi kita sendirilah yang memutuskan. Dimana hati kita menuju, hal yang kita pikirkan setiap pagi kita membuka mata, itulah hal yang harus kita jalani, itulah hal yang harus kita pegang dan percaya. Kepuasan batin, itulah yang dicari..

Rancho mendorong teman-temannya untuk berani berjalan. Berani melihat ke depan. Berani jujur. Katakanlah apa yang kau inginkan, beranilah melangkah. Karena seburuk apapun hasil yang mungkin terjadi, kekecewaan bisa pudar, pekerjaan bisa berganti, uang bisa dicari, nasib bisa diperjuangkan, namun kehidupan, hanya berjalan sekali. Jadi jangan disia-siakan dengan mengakhirinya secara sepihak tanpa sempat berjuang. Jangan disia-sia kan, dengan membiarkan kehidupan kita didefinisikan oleh selembar kertas bernama ijazah dan slip gaji.

Jika Rancho adalah inspirasi bagi Farhan, Raju, Pia, dan orang-orang disekitarnya. Maka film ini adalah inspirasi bagi saya bagaimana menyikapi kehidupan dengan AAL IZZ WELL ^_^

Cerita ini adalah sebuah pengalaman yang saya alami sendiri. Berawal dari niat melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi kedinasan. Kebetulan saya tertarik dengan meteorologi, hal-hal yang berhubungan dengan BMG, awan sirus dan komulunimbus, ramalan hujan, cerah, berawan, rotasi bumi dan musim dunia, juga pergerakan muson timur, muson barat, angin laut, dan angin darat. Karena kesenangan itu, saya bermaksud mendaftar Akademi Meteorologi dan Geofisika di Jakarta yang notabene adalah salah satu akademi kedinasan di Indonesia.

Saat itu pendaftaran dan tes akademik dilakukan dibeberapa propinsi di Indonesia. Namun sayangnya, tidak termasuk Lampung. Perjalanan bolak balik Jakarta-Lampung terpaksa saya lakukan saat penyerahan berkas pendaftaran dan tes akademik. Pengalaman “nyasar” pun pernah saya alami. Benar-benar perjuangan yang melelahkan . Satu hal yang melegakan hati saya adalah soal-soal yang diujikan merupakan materi ujian nasional. Jadi, setelah selesai tes saya keluar ruangan dengan yakin telah mengerjakan soal dengan baik.

Hari-hari penantian, penuh dengan khayalan tingkat tinggi . Tidak pernah berhenti membayangkan saya memakai seragam biru lengkap dengan tali likurnya. Hari-hari itu menjadi sangat menyiksa setelah beberapa kali diberitahukan bahwa pengumuman diundur. Seharian berada didepan komputer, harap-harap cemas sambil “ngobrol” lewat dunia maya dengan teman-teman yang juga dalam penantian. Akhirnya tiba 14 Juli 2010. Berangkat dari rumah menuju sebuah warnet dengan perasaan merinding tidak karuan. Pelan-pelan saya buka satu persatu link . Tibalah pada sebuah PDF file. Saya cari kata Jakarta. Setelah ditemukan,  dengan tangan gemetar saya urutkan nama yang tercantum di lembar itu. Sampai di abjad P, tidak ditemukan nama PUTRI EKA AYUNI S. Saya cari nomor peserta, juga tidak tercantum nomor saya disana.

Kecewa ? Jelas. Tetapi saya tidak menangis. Karena saya sadar posisi saya masih berada di warnet saat itu. Saya bingung bagaimana cara memberitahu orang tua saya. Padahal mereka sangat berharap besar saya dapat kuliah disana. Yang bisa saya lakukan hanyalah memberitahu sahabat-sahabat yang sedari tadi menanyakan hasil pengumuman via SMS. Saya hanya mengirimkan kata “gagal” kepada mereka. Dan mereka membalas dengan memberi kekuatan dan support kepada saya. Tetapi, salah satu sahabat terdekat saya membalas dengan kata-kata “kenapa put? kenapa gagal?”. Saya bingung, saya mulai bertanya-tanya kenapa saya gagal. Jawaban yang ada dikepala saya hanya TAKDIR. Dengan speechless saya balas SMS dari sahabat saya itu hanya dengan “……..” . Tidak lama kemudian sebuah balasan berbunyi “ya udah put, minta maaf sama Allah”. Air mata yang daritadi saya tahan akhirnya mengalir saat saya menyadari kesalahan besar saya.

Saya putuskan pulang kerumah, dan dikamar saya menangis seharian. Tanpa bertanya pun orang tua saya tahu, kalau saya gagal. Yang saya tangisi saat itu bukan lagi kegagalan, tetapi penyebabnya. Terlalu banyak kesalahan yang saya lakukan. Saya ingat dua minggu yang lalu saya bertengkar dengan ayah saya, saya membentak-bentak dan memukul adik saya, saya banyak berburuk sangka pada teman-teman saya, saya dzalim kepada allah, kepada diri saya sendiri, dan kepada orang lain. Dengan kata lain terlalu banyak dosa yang baru saya sadari. Dan kegagalan ini adalah salah satu teguran dari Allah kepada saya lewat sahabat saya.

Hari-hari berikutnya, saya jalani dengan niat perubahan. Dalam setiap sholat dan doa, saya bersyukur masih diberi peringatan. Selalu menangis setiap mengingat kesalahan-kesalahan itu dan memohon kebesaran Allah untuk mengampuninya. Saya yang sebelumnya hanya berpikir bahwa kegagalan adalah takdir, tanpa adanya faktor X, kini mulai menyadari bahwa apa yang kita dapat sekarang, adalah apa yang kita lakukan kemarin. Entah bagaimana caranya, saya merasa ketenangan hati yang luar biasa, yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.

Baru tiga hari waktu saya menyadari semua kesalahan yang saya lakukan berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun yang lalu sejak pengumuman itu. Namun, Allah langsung menjawab dengan cepat tangisan saya dengan karunia yang luar biasa. Diterimanya saya di Institut Pertanian Bogor jurusan Ekonomi Syariah saat pengumuman SNMPTN, tanggal 16 Juli 2010.

Alhamdulillah….

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam ^_^

Categories
Archives
Recent Comments
    February 2015
    S M T W T F S
    « Sep    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728